Pasok 900 MW Listrik Hijau

Direktur Operasional KHE Khaeroni saat memberi keterangan di Tanjung Selor, Kalimantan Utara. (Foto: Mery Handayani/VOI)

TANJUNG SELOR- PT Kayan Hydro Energy (KHE) saat ini sedang mengerjakan bendungan pertama proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Hydropower Sungai Kayan di Kecamatan Peso, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

PLTA Kayan tahap pertama ini ditargetkan siap beroperasi komersial (COD) pada 2027 mendatang.

“Kalau bicara bendungan 1 (PLTA Kayan), itu COD bisa sampai 2027, paling lama 2028. Total kapasitasnya 900 Megawatt (MW) bendungan 1,” ujar Direktur Operasional KHE Khaerony di Tanjung Selor, Kalimantan Utara, Minggu, 10 Desember.

Roni, sapaan akrab Khaerony menjelaskan, berdasarkan pengecekan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) per Agustus 2022 lalu, progres pembangunan bendungan 1 PLTA Kayan sudah mencapai 27 persen.

Lebih lanjut, Roni menjelaskan, jika berbicara mengenai tahapan bukan cuma bendungan, tapi juga infrastruktur pendukungnya yang dihitung menjadi satu proyek.

“Kalau bicara project bendungan ini kan ada jalur akses, rencana jembatan dan lain sebagainya. Terakhir ini yang final adalah diversion, pekerjaan untuk mengalihkan sungai sebelum dilakukan pembendungan,” ucapnya.

Roni bilang, pekerjaan diversion ini telah dilakukan sekitar 3-4 bulan yang lalu. Ia menjelaskan bahwa pengerjaan pengalihan sungai ini dilakukan lewat proses peledakan atau blasting di lokasi proyek. Di mana ditargetkan pengerjaan tersebut bisa rampung 6-8 bulan.

“Mungkin pertengahan tahun depan sudah bisa selesai, terus kita lakukan pekerjaan tambahan,” jelas Roni.

Tidak Asal Lakukan Blasting

Saat ini, sambung Roni, KHE rutin melakukan proses peledakan di lokasi proyek bendungan 1 PLTA Hydropower Kayan setiap hari selama empat bulan.

“Tiap hari blasting. Jam 12 itu ada peledakan, karena ini ngejar pekerjaan diversion supaya cepat selesai. Jadi tiap hari harus continue blasting,” ujarnya.

Namun, Roni menekankan, KHE tidak bisa sembarang melakukan blasting.

Alasanya, sambung Roni, kerena Sungai Kayan masih dipakai sebagai jalur transportasi oleh masyarakat setempat.

“Pada saat blasting ini harus ada blocking hulu sungai dan hilir sungai. Jadi titik aman masyarakat lewat itu kita blocking, ada informasi jam ledakan kita pasang di desa-desa setempat, sudah kita sosialisasikan,” katanya.

Roni juga mengatakan pihaknya akan melibatkan TNI-Polri untuk melakukan penutupan akses di area hulu dan hilir sungai. Penutupan dilakukan untuk memastikan masyarakat tidak ada yang lalu lalang saat proses peledakan atau blasting.

“Jadi masyarakat pada saat jam blasting tidak boleh lewat dulu. Setelah peledakan, sudah aman, baru bisa melintasi sungai lagi,” tuturnya.